Jakselmu.id : jakarta | Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah menjadi agenda rutin dilaksanakan. Biasanya dilakukan pada minggu pertama, dilaksanakan di Jogjakarta dan di Jakarta. Untuk di Jakarta Pengajian Ramadhan digelar di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) kampus Cirendeu. Pengajian ini dilaksanakan dari tanggal 6 s.d. 8 Maret 2025 dibuka langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah “ Haedar Nashir “
Dalam sambutannya rektor UMJ mengatakan terima kasih atas kepercayaan PP Muhammadiyah, UMJ tetap dipercaya sebagai tuan rumah kembali. Lanjut beliau pelaksanaan pengajian Ramadhan pada tahun ini kesannya sangat berbeda karena banyak dihadiri oleh kader Muhammadiyah yang diberikan kepercayaan atau amanah sebagai menteri atau wakil menteri pada kabinet presiden Prabowo. Suasana riuh dan tepuk tangan ketika satu persatu nama menteri atau wakil menteri yg hadir. Kata Sambutan dari Pak Menko Zulkifli Hasan dan Pak Nusron Wahid sekaligus menyerahkan beberapa Sertifikat atas nama Persyarikatan Muhammadiyah.
Pengajian Ramadan tahun ini diikuti 644 peserta, berasal dari seluruh unsur Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Daerah perwakilan DIY, Jawa Barat, DKI, Banten bahkan hadir juga perwakilan dari Kepulauan Sumatera ( Lampung dan sekitarnya )
Kegiatan yang berlangsung 3 hari ini menghadirkan beberapa tokoh, di antaranya Prof. Haedar Nashir; Prof. Dr. Muhadjir Effendy; Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A.; Prof. Dr. M. Amin Abdullah; Dr. Adi Hidayat; Prof. Dr. Syafiq A. Mugni; Prof. Ai Fathimah Nur Fuad; Dr. Atiyatul Ulya; Dr. Amirsyah Tambunan; Dr. Imam Addaruqutni.
Pengajian ini mengusung tema besar, “Pengembangan Wasathiyah Islam Berkemajuan” Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan bahwa isu soal wasathiyah telah menjadi isu utama di Indonesia sejak satu dekade terakhir. Bahkan telah menjadi isu penting dunia yang terus disuarakan oleh tokoh-tokoh berpengaruh tingkat global.
Pada tahun 2018, dipelopori Prof Dr Din Syamsuddin bersama seluruh kekuatan keagamaan akhirnya menghasilkan deklarasi yang teramat penting, yaitu Deklarasi Bogor. Deklarasi itu menyebutkan bahwa wasathiyah merupakan sikap keislaman yang memiliki tujuh poin penting. Di antaranya, tengahan, adil, toleran, selalu mencari titik temu melalui musyawarah, selalu mengambil tindakan yang reformatif dan konstruktif untuk kehidupan bersama, selalu menawarkan inisitif mulia untuk memimpin kepada kesejahteraan bersama, dan yang terakhir, menerima NKRI dan menghargai kewarganegaraannya.
Diakhir sambutan Ketua Umum penyampaikan “ perlunya kita semua kembali membaca khazanah bagaimana Kyai Dahlan memahami pondasi berorganisasi. Cara pikir dan sikap kita merujuk pada pada organisasi dan bukan kemauan individu. Orang per orang akan pergi, bingkai kita adalah organisasi, Muhammadiyah harus menjiwa di kita. Muhammadiyah ada ladang beramal, sehingga tidak ada yang purna “. jelas Haedar.